adsense image ad

Kamis, 03 Februari 2011

AZAB KUBUR BAGI JASAD YANG HANCUR

Pada asalnya azab kubur ditimpakan kepada ruh karena setelah kematian hukum dilaksanakan kepada ruh. Sedangkan jasad jasad yang telah menjadi bangkai tidak butuh pengawetan, makan atau minum, bahkan dialah yang dimakan tanah.
Akan tetapi Syaikhul Islam Ibnu Taimiah berkata, bahwa terkadang ruh masih berhubungan dengan jasad sehingga keduanya masih diazab atau disiksa bersamaan. Menurut Ahlus sunnah, ada lagi pendapat lain, bahwa nikmat dan azab ditimpakan kepada jasad tanpa ruh. Dibuktikan dengan ditemukannya secara nyata pada kubur-kubur yang digali adanya bekas-bekas azab atau nikmat pada jasad penghuni kubur tersebut.
Beberapa orang telah mengabarkan kepada saya (Syaikh Ibnu Utsaimin) bahwa di sini, Unaizah, Saudi Arabia, ketika sedang berlangsung penggalian untuk membuat pagar batas Negara, dilaluilah sebuah kuburan. Ketika kuburan tersebut digali, di dalamnya ditemukan sosok mayat yang jasadnya masih utuh belum rusak, padahal kain kafannya telah hancur dimakan tanah. Sebagian yang lain melihat jenggot mayat tersebut ber-hana (pewarna rambut) dan mengeluarkan semerbak bau seperti misk.
Para pekerja pun menghentikan penggalian. Kemudian mendatangi seorang ulama untuk menanyakan tentang hal yang mereka temui. Ulama tersebut memerintahkan untuk tidak mengganggu kubur tersebut. Jika tetap ingin menggali, di samping kanan atau kiri kubur tersebut.
Atas dasar keadaan seperti itu para ulama mengatakan bahwa ruh terkadang berhubungan dengan jasad sehingga azab diberikan kepada ruh jad jasad. Bisa pula dengan pemahaman hadits Nabi Saw
“Sesungguhnya kubur akan disempitkan untuk orang kafir sehingga berhimpitlah tulang rusuknya.” (Musnad Ahmad III/126)
Hal ini menunjukkan bahwa azab ditunjukkan kepada jasad, karena tulang rusuk terdapat pada jasad. Wallahu a’lam. (Majmuk Fatawa wa Rasail Fadhilatusy Syaikh Muhammad bin Shalih al Utsaimin II/25-26)
Banyak orang yang meragukan adanya azab (siksa) kubur. Keraguannya berawal karena bakal adanya azab di dalam neraka. Lantas, untuk apa, adanya azab kubur? Azab kubur adalah sebuah prosesi yang diperlihatkan kepada mayat di dalam kuburnya mengenai apa-apa yang dialaminya kelak di dalam neraka.

Validitas Adanya Azab Kubur
Dalil yang memperkuat adanya azab kubur adalah:
1)Firman Allah Swt., “Alangkah dahsyatnya sekiranya kamu melihat di waktu orang-orang yang zalim berada dalam tekanan sakratul maut, sedang para malaikat memukul dengan tangannya, (sambil berkata): "Keluarkanlah nyawamu" di hari Ini kamu dibalas dengan siksa yang sangat menghinakan, Karena kamu selalu mengatakan terhadap Allah (Perkataan) yang tidak benar dan (karena) kamu selalu menyombongkan diri terhadap ayat-ayatNya.” (QS. Al-An’am [6]: 93)
Sebagian ulama menafsirkan kata “di hari ini kalian dibalas dengan siksaan yang menghinakan” sebagai siksa sakratul maut dan siksa di alam kubur. Artinya, orang yang zalim atau ingkar kepada Allah itu akan merasakan siksa keduanya
2)Sabda Rasulullah Saw., “Kedua penghuni kubur sedang disiksa (diazab) bukan karena dosa besar. Penghuni kubur ini disiksa karena buang air kecil sembarangan, sedangkan penghuni kubur yang satu lagi selalu membuat fitnah”.
Pada dasarnya masih banyak hadis-hadis lain yang menguraikan tentang azab (siksa) kubur. Di antaranya, tanah-tanah merangkul dan menghimpit tubuh si mayat sehingga tulang rusuk yang kanan beradu dengan tulang rusuk yang kiri.
Ketika Syeikh Mutawalli Sya’rawi ditanya, jika ada azab kubur untuk apa kelak manusia di akhirat harus diadili (dihisab) lagi? Untuk menjawab pertanyaan itu, beliau mengambil contoh dengan kehidupan manusia di dunia ini. Yaitu, orang yang bersalah sebelum diadili dan diputus hukumannya lebih dulu diperiksa oleh polisi atau jaksa. Dibuat berita acara, kemudian diserahkan pada penutut umum, lalu ke pengadilan. Mungkin juga dilakukan penahanan. Proses seperti itu sudah merupakan siksa bagi si tertuduh. Demikian juga dengan siksa kubur. Ia hanya sebuah proses yang diperlihatkan kepada si mayat apa yang akan dirasakannya di dalam kubur.

Pendapat Ibnu Qoyyim terhadap Azab Kubur
Menurut Ibnu Qoyyim, agar seseorang terhindar dari azab kubur dengan menghindari semua sebab yang mendatangkan siksa kubur. Cara yang paling efektif adalah seorang duduk sejenak sebelum tidur malam, lalu menghisab dirinya.
Apakah hari ini ia ada melakukan perbuatan zhalim, baik terhadap diri sendiri maupun orang lain? Lalu, ia memperbarui tobatnya. Menyesali segala kesalahan yang dilakukannya dan ia berjanji tak akan mengulangi dosa yang diperbuatnya jia ia bangun pada keesokan harinya. Setelah itu, ia tidur.
Jika memang ada ia berbuat zhalim kepada orang lain, maka esok harinya ia meminta maaf atas kesalahannya. Jika mengambil milik orang lain, maka ia memulangkannya kembali.
Aktivitas ini, menurut Ibnu Qayyim, harus dilakukan setiap malam. Karena jika mati pada malam itu, maka ia mati dalam keadaan bertaubat. Sehingga saat di dalam kubur ia tidak akan mendapatkan azab kubur. Dengan tips ini tentunya Allah senantiasa memberi keampunan setiap malam, dan mendatangkan nikmat baginya di dalam kubur.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar